May 29, 2009

My Profile

A.

Nama dan Gelar

:

Sarna Suryana, S.Pd

B

NIP

132296770

C.

Tempat dan Tanggal Lahir

:

Karawang, 7 Mei 1975

D.

Pangkat dan Gol ruang

:

Penata Muda Tk 1/IIIb

E.

Alamat Rumah

:

Jalan Terusan Cimuncang, Pasir Leutik Rt 01/03

No. 184, Padasuka, Cimenyan Kabupaten Bandung 40154.Tlp. 022-7232263, 7277318/HP. 081321819050

F.

Alamat Kantor

:

Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA-UPI,

Jln. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Telp. 022-2001937.

G.

Riwayat Pendidikan

1982 – 1988

:

SD Negeri Sirna Galih, Pangkalan Karawang

1988

1988 – 1991

:

SMP Negeri Cariu Bogor

1991

1991 – 1994

:

SMA Negeri 1 Jonggol Bogor

1994

1994 – 1999

:

S1 Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Bandung

1999

H.

Riwayat Pekerjaan

1996 – 1997

:

Tenaga pengajar di SLTP Darul Hikmah, Sariwangi, Ciwaruga, Bandung

1997 – 1998

:

Tenaga pengajar di SLTP Bina Bakti, Geger Arum, Isola, Bandung

1997 – 1998

:

Karyawan part time, di Departement Banquet,

Hotel Horizon, Bandung

Juli – Oktober 1999

:

Tenaga pengajar di SMU Pasundan 8 Bandung

1999 – 2000

:

Tenaga pengajar di SMU Bina Dharma 1 Bandung

Juni – Desember 2001

:

Tenaga pengajar di Bimbingan Belajar “Primagama” Bandung

2000 – Januari 2002

:

Tenaga pengajar di SLTP/SMU Terpadu Nuruzzaman, Cilengkrang I Ujung Berung, Bandung

Februari – Juli 2002

:

Staf Laboratorium Ekologi Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

Agustus 2002 – Januari 2003

:

Staf Laboratorium Fisiologi Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

Februari – Juli 2003

:

Staf Laboratorium Struktur Hewan Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

Agustus 2003 – Januari 2004

:

Staf Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

Februari 2004 – sekarang

:

Staf Laboratorium Struktur Tumbuhan Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

I

Riwayat Jabatan

2001

:

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum/PKS Kurikulum di SMU Terpadu Nuruzzaman, Cilengkrang I, Ujung Berung Bandung.

J

Penghargaan yang diterima

2009

:

Pegawai Berprestasi tingkat Fakultas pada Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA

Mei 2009

:

Pegawai Berprestasi tingkat Universitas pada Universitas Pendidikan Indonesia

K

Riwayat Pendidikan dan Latihan

Pengalaman sebagai nara sumber

Lampung, 2004

Pelatihan/training Produksi laboratorium ”Bioplastik”

FMIPA Universitas Lampung

Jakarta, 2005

Pelatihan Pengelolaan dan Pengembangan Laboratorium IPA dalam rangka A1

Universitas Islam As-Syafi’iyah

Banten, 2007

Manajemen Laboratorium Sekolah dan Training Produksi Laboratorium “Bioplastik”

SMP/SMA La Tansa Banten

Bandung, 2008

Teknik perawatan dan service mikroskop

Sekolah Pascasarjana UPI

Banten, 2009

Diklat Pembuatan Awetan dengan Menggunakan Media Gliserin

SMP/SMA La Tansa Banten

Pelatihan/Penataran berhubungan dengan laboratorium

PPPG IPA

Pelatihan Penggunaan KIT IPA SLTP Swasta

2001

ITB

Pelatihan tenaga teknisi se Indonesia

2002

FPMIPA-UPI

Pelatihan Produksi Video Pembelajaran

2003

FPMIPA UPI

Workshop Produksi Video Pembelajaran

2004

ITB

Workshop Vivied : Video Editing

2007

»»  read more

May 20, 2009

Wanita Mulia

WANITA MULIA", MENGANTAR 15 ANAKNYA DENGAN MODAL IKHLAS

Hidayatullah.com--Jika ukurannya gelar akademis, Mulia Kuruseng termasuk orang yang sukses dalam mendidik anak. Janda beranak 15 ini berhasil mengantarkan anak-anaknya menggapai gelar sarjana, ada yang profesor, doktor, master, insinyur, dan letnan.

Sejak tahun 1985, Mulia menjadi single parent (orangtua tunggal) bagi 15 anaknya. "Saya berfungsi sebagai ibu sekaligus bapak," ungkapnya bersemangat. As'ad, sang suami, meninggal pada Oktober 1985 akibat penyakit hipertensi dan jantung.

As'ad seorang pedagang kain, pakaian jadi, dan sarung Bugis di Pare Pare (Sulawesi Selatan). Waktu itu, As'ad termasuk seorang pengusaha yang sukses. Omset usahanya tiap bulan mencapai Rp 100 juta.

Mulia bukan seorang guru apalagi bergelar sarjana, tapi hanya tamatan SD. As'ad pun cuma tamat SMA. "Saya menikah saat kelas II Muallimin, saya hanya punya ijazah SD," kenangnya.

Bagaimana bisa ibu rumah tangga ini sukses mengantar 15 anaknya meraih berbagai gelar akademis? Wartawan Hidayatullah menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan nenek dari 24 cucu ini di kediamannya, Jl Matahari No 20 Pare-Pare.

*Bagaimana perasaan Anda dalam membesarkan 15 anak sendirian?**
Saya tidak pernah mengeluh. Saat itu saya tidak berpikir bagaimana nanti. Saya nekad saja. Alhamdulillah, Allah selalu berikan saya rezeki sedikit demi sedikit.

Apa saja yang Anda lakukan?*

Saya berusaha melanjutkan usaha Bapak. Kan Bapak punya kios, ada barangnya.Dulu Bapak berhasil. Tetapi saat meninggal, semua piutang tersendat.

Saya sampaikan kepada anak-anak agar tetap melanjutkan sekolah. Jangan ada yang berpikir putus sekolah. Kan masih ada Tuhan. Alhamdulillah, itu semua terwujud. Waktu itu yang bungsu berusia tiga tahun.

*Bagaimana dengan anak-anak yang masih kecil waktu itu?*

Kebetulan waktu itu anak yang kedua (Suryani) dan ketiga (Indriyati) sudah menikah. Indriyati sebenarnya belum selesai kuliah, tapi dia sudah menikah. Merekalah yang banyak membantu saya mengurus adik-adik. Merekalah yang men-support adik-adiknya untuk maju sekolah.

Apa yang paling Anda tekankan dalam mendidik anak-anak?*

Prinsip saya mendidik anak-anak ada tiga hal, yaitu ikhlas, jujur, dan sabar. Kejujuran saya tanamkan sejak mereka kecil, ini turunan dari kakeknya. Kami dulu dididik untuk senantiasa jujur. Jika ada makanan di meja, tidak ada yang langsung mau makan, harus dibagi dulu. Jika ada
uang di meja, mereka berteriak mencari siapa yang punya. Jadi, di rumah ini
tidak pernah terjadi kehilangan uang.

*Dengan 15 anak, untuk bersikap sabar tentu berat ya. Pernahkah Anda memukul atau mencubit mereka?*

Saya tidak pernah memukul mereka. Contohnya, si bungsu pernah mogok
makan. Gara-garanya minta dibelikan sepeda motor karena temannya semua sudah beli motor. Saya tidak marah. Saya hanya bersabar. Tiba-tiba temannya yang
punya motor tabrakan dan meninggal dunia. Saya sampaikan kepada dia, "Saya
sayang kamu Nak." Apalagi memang saya tidak punya uang.

Saya selalu mengeluarkan bahasa-bahasa yang sopan. Mereka tidak pernah dipukul, juga tidak pernah dibentak. Jika ada yang salah, saya tegur saat dia lagi sendiri agar tidak tersinggung, di saat adik atau kakaknya tidak ada. Jika ada yang mau saya tegur, saya carikan waktu khusus. Karena jika anak nakal satu, bisa jadi nakal semua. Saya selalu ingatkan dengan bahasa
sopan. Anak-anak ini semua (sambil menunjuk foto-foto mereka) tidak ada yang
pernah kena cambuk.

Kalau marah sama mereka, saya pergi wudhu kemudian shalat sunah. Nanti
setelah tenang baru saya nasihati mereka.

*(Hasmi As'ad (48), anak sulungnya, mengaku belum pernah merasakan
kerasnya tangan ibunya. "Saya kira adik-adik juga begitu," kata dokter yang kini
menjadi Kepala Kesehatan Pertamina Wilayah Selatan.

Kalau marah, katanya, sang ibu biasanya diam. "Baru beberapa saat kemudian Ibu bicara," ujarnya.)*

*Bagaimana menanamkan keikhlasan?*

Saya tidak pernah berpikir untuk mendapat gantinya, atau anak-anak membalas jasa-jasa saya. Tidak, saya betul-betul ikhlas.

Saya juga tekankan pada mereka untuk ikhlas dalam memberi. Jika saya
minta mereka membantu adik-adiknya, harus betul-betul ikhlas, jangan
dipaksakan. Saya bilang kepada yang punya istri, jangan bebani istrimu. Jika tidak
setuju, jangan dilakukan. Tetapi justru menantu-menantu yang paling
dulu memberi. Mereka bilang, "Kami ikhlas."

*(Keluarga ini punya kebiasaan saling membantu, bila saudaranya yang
lain memerlukan dana. Contonya saat Sumarni (anak ke-14) mau beli mobil,
Mulia menghubungi anak-anaknya yang lain. Akhirnya mereka patungan, ada yang
memberi Rp 5 juta, Rp 10 juta, sehingga terkumpul 70 juta untuk beli
mobil).

Dalam hal ibadah, bagaimana Anda mendidik anak-anak?*

Saya tidak pernah menyuruh mereka untuk shalat, tetapi saya harus mencontohkannya. Saya dulu yang kerjakan, baru kemudian saya suruh mereka. Kita tidak bisa suruh anak-anak sebelum kita mencontohkannya.

Untuk kesehariannya, saya melarang anak-anak memasukkan urusan-urusan
di luar ke dalam rumah, termasuk juga dalam berbahasa. Bahasa yang tidak
dipakai di rumah dilarang masuk ke dalam rumah. Bahasa di luar dipakai di luar saja, tidak boleh masuk ke dalam rumah.

Dalam hal ruhani, kebetulan saya bertetangga dengan KH Abdul Pa'baja
(ulama besar di Pare Pare). Beliau juga yang banyak membantu menanamkan nilai-nilai moral pada anak-anak. Di sinilah terbentuknya fondasi anak-anak.

Semua anak Anda bergelar sarjana, apakah memang ditekankan soal ilmu?*

Oh, tidak. Saya cuma tekankan bahwa siapa yang tidak sekolah ayo bantu ibu. Akhirnya mereka semua mau sekolah. Saya juga buat persaingan di antara mereka. Saya tidak pernah secara langsung menekankan mereka untuk
sekolah, saya hanya buat persaingan. Siapa yang rangking I akan lebih tinggi
hadiahnya daripada yang rangking II. Jadi, mereka terus berlomba. Mereka rata-rata rangking satu, dan SD-nya lima tahun.

Saya tidak pernah menyogok, baik ketika anak-anak sekolah ataupun mencari
pekerjaan. Rezeki itu datangnya dari Allah, tidak perlu disogok. Insya Allah, di rumah ini bersih. Untuk bekerja, anak-anak bilang, "Saya tidak usah bekerja jika harus menyogok."

*Mengapa tidak berpikir untuk menikah lagi?*

Wah, siapa yang mau mengurus anak sebanyak ini? He.he.. Yang jelas sejak suami meninggal, saya berjanji untuk melanjutkan perjuangannya dengan menyekolahkan anak-anak. Bahkan saya pernah bersumpah untuk itu, saat suami saya di rawat di rumah sakit.

*Apa aktivitas Anda sekarang?*

Saya di rumah saja, kadang ke pasar jaga toko, itu pun tidak serius. Saya hanya duduk, berdzikir, dan mengaji. Jika di toko, saya kadang menghabiskan
dua juz dari pagi hingga Dhuhur.* (Sarmadani, *Makasar*/*hidayatullah.com*)

Nama-nama anak Hj Mulia Kuruseng:
1. Dr Hasmi As'ad (48), *alumnus Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanudin
(Unhas), saat ini menjadi Kepala Kesehatan Pertamina Wilayah Sulawesi.*

2. Prof DR dr Hj Suryani As'ad, MSc, SpGK (46), *profesor muda di
Fakultas
Kedokteran Unhas.*

3. Dr Indriyati As'ad (44), *MM. Dokter umum di LNG Bontang (Kalimantan
Timur), meraih gelar master dari Universitas Mulawarman, Samarinda. *

4. Dr Imran As'ad, SpD (42), *dokter spesialis penyakit dalam alumnus
Unhas,
bertugas di Luwuk.*

5. Ir Siswana As'ad (40), *bekerja di Kantor Poleko Group, Makassar.*

6. Ir Solihin As'ad, MT (39), *sedang melanjutkan S-3 di Austria.*

7. Wahidin As'ad (37), *drop-out Fakultas Ekonomi Unhas, pengusaha
sukses di
Makassar.*

8. Ir Suriasni As'ad (37), *arsitek dari Unhas, kontraktor.*

9. Ir Nurrahman As'ad, MT (34), *alumnus ITB, dosen di Universitas
Islam
Bandung (Unisba).*

10. Ir Rahmat Hidayat, MS (33), *master dari ITB, kini sedang menempuh
studi
doktor di Jepang.*

11. Ir Jabbar Ali As'ad (31), *dosen Sekolah Tinggi Teknologi (STT)
Baramuli Kabupaten Pinrang*.

12. Munir Wahyudi, SE, Ak, MM (29), *magister dari Universitas Padjajaran
(Unpad) Bandung, dosen beberapa perguruan tinggi di Bandung.*

13. Ir Muhammad Arif As'ad, MM (27), *alumnus Fakultas Teknik UGM,
gelar masternya dari ITB, saat ini bekerja pada PT Indika Entertaimen Jakarta.*

14. Sumarni Aryani As'ad, SKed (26), *alumnus Fakultas Kedokteran
Unhas. *

15. Letda Kurnia Gunadi (24), *alumnus Akademi Angkatan Laut,
Surabaya*.

»»  read more

Search by Google